Tradisi ‘Ngiring’ Salah Satu Sumber Kebahagiaan Umat Hindu

Seringkali kita menjalankan tradisi tanpa bertanya apa, bagaimana dan kenapa tradisi tertentu harus dilaksanakan. Salah satu contohnya tradisi ‘ngiring’ di desa Songan dan sekitarnya. Di desa lain entah apa sebutannya. Namun yang pasti tradisi ini serupa dengan Melasti, Mekiis.

Kata Ngiring dapat diartikan sebagai mengantar. Ngiring merupakan suatu proses mengarak Arca leluhur, dewa-dewi, bahkan arca Tuhan. Biasanya dengan berjalan kaki. Dalam tradisi Veda (India) disebut RathaYatra. Walau sedikit berbeda, akan tetapi hakekatnya sama. “Ratha Yatra memiliki beberapa arti. Terjemahan dari bahasa sanskerta berarti ‘festival kereta’. Namun tentunya dibalik itu terdapat suatu makna yang jauh lebih dalam.” (https://jagannathineverytownandvillage.com)

Ngiring biasanya dilakukan ketika dilaksanakan suatu upacara atau piodalan di pura besar. Ngiring pertama disebut ‘ngodal’ Ida Bhatara; mengeluarkan arca Ida Bhatara ke pura utama, dan ngiring terkahir disebut ‘ngantukang’; mengembalikan Arca Ida Bhatara pada pura masing-masing klan/sanggah.

Sadar atau tidak, percaya atau tidak percaya, tradisi ngiring dapat menciptakan kebahagiaan bagi umat Hindu. Kok bisa? menurut sebuah studi, bau keringat dari orang yang bahagia bisa menyebabkan orang lain yang menciumnya ikut berbahagia. Hal itu besar kemungkinannya akan terjadi ketika mengikuti prosesi ngiring.

Selain itu, tradisi ngiring juga dapat merekatkan antar kelompok masyarakat, dimana mereka berjalan beriringan diantara ribuan orang. Tak jarang kita bisa bertemu sahabat yang telah lama tak berjumpa, tetapi bisa bertemu ketika ikut ngiring. Bahkan ada pula bertemu jodoh ketika mengikuti prosesi ini. Dari sudut pandang kesehatan juga dapat menciptakan budaya hidup sehat, dimana kita berolahraga jalan kaki tanpa beban.

Tak kalah menarik dari sisi kesehatan secara rohani. Seseorang yang beriteraksi dengan banyak orang dapat menimbulkan kebahagiaan. Berdasarkan hipotesa saya hal itu terjadi sebagai berikut;

Seseorang yang berinteraksi dengan banyak orang maka akan saling memberi dan menerima energi prana; tubuh bioplasmik, tubuh halus yang memancarkan energi cahaya. Orang yang kelebihan energi prana diserap oleh orang yang kekurangan energi prana. Dari sini maka terjadi keseimbangan energi prana seseorang sehingga menyebabkan masyarakat merasa bahagia setelah mengikuti tradisi ngiring,  meski efek yang ditimbulkan hanya beberapa hari.

Sayangnya, tradisi ngiring sering disalahgunakan generasi muda untuk kesempatan jalan bersama pujaan hati, hiks. Bukannya untuk memberi hormat pada dewa-dewi, malah mepet dengan pacarnya. Saya termasuk di dalamnya. Huahaha.

Author: I Ketut Merta Mupu

Seorang pemuda yang lahir di daerah terpencil, berpikir sederhana dan terbuka. Alumni Universitas Hindu Indonesia (UNHI). Sedang menjadi pelayan masyarakat sebagai Pendamping Sosial di Kementerian Sosial RI - berdinas di Dinsos Kabupaten Bangli.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *