Pemikiran Bisa Menjadi Racun

Di media social ada seorang pengusaha mengirim pesan kepada saya. Katanya, “Yang saya irikan, banyak isi kepala ini yang sangat ingin dituangkan dalam tulisan dan dibagi dan berharap semoga bermanfaat bagi orang lain”.

Maksud dari teman tersebut mungkin banyak ide maupun gagasan yang bermunculan di dalam benaknya namun belum bisa disampaikan dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu saya mencoba memberikan tanggapan.

Ide-ide yang muncul jika tidak disampaikan kepada orang banyak maka akan menjadi racun dalam pikiran dan akan menjadikan kita kurang berpengetahuan. Menurut ajaran Hindu orang yang bersedekah akan dilipatgandakan apa yang disedekahkan. Sedekah tidak hanya berupa harta, Artha Dana, tetapi juga sedekah berupa Ilmu tentang kebenaran, Dharma Dana dan juga sedekah berupa pengorbanan diri, Jiwa Dana. Sedekah berupa ilmu lebih mulia daripada sedekah berupa harta atau materi. Ilmu mengalir bagaikan air sungai, oleh karena itu ilmu pengetahuan dipuja sebagai dewi “Saraswati” yang juga nama sebuah sungai di India.

Ide yang ada dalam pikiran sudah seharusnya disedekahkan kepada orang lain dengan diwacanakan dengan dituliskan, disampaikan melalui diskusi ( dharmatula ) atau  didakwahkan ( Dharma Wacana ). Bila menggunakan metode dakwah secara langsung itu bukan hal mudah. Pada era teknologi, ada cara sederhana yaitu dengan menuliskannya di media online seperti blog.

Percaya atau tidak, tuhan akan melimpahkan rahmatnya berlipat-lipat kepada orang-orang yang dermawan dan sebaliknya akan mengambil anugerah yang pernah dilimpahkan dari orang-orang yang berhati pelit, baik pelit harta maupun pelit ilmu. “Berdermalah untuk tujuan yang baik dan jadikanlah kekayaanmu bermanfaat. Kekayaan yang didermakan untuk tujuan luhur tidak pernah hilang. Tuhan Yang Maha Esa memberikan jauh lebih banyak kepada yang mendermakan kekayaan untuk kebaikan bersama“. (Atharwa Veda III.15.6).

Kekayaan bukan hanya berupa harta, bahkan kekayaan yang sejati adalah ilmu, terutama pengetahuan tentang Tuhan. Di dalam Canakya Nitisastra dinyatakan bahwa orang yang tidak berilmu adalah orang miskin meski dia kaya. Didalam Bhagavad Gita disebutkan semua pekerjaan berpusat pada ilmu. Jika memiliki kekayaan berupa ilmu maka sudah sewajarnya disedekahkan kepada orang lain. Ilmu yang disedekahkan akan menyebar secara berantai. Misalnya pada mula disampaikan kepada si A, sedangkan si A menyampaikan kepada orang lain, demikian seterusnya, sehingga ilmu itu menjadi menyebar kepada banyak orang. Demikian pula halnya dengan harta benda akan menyebar kepada banyak orang bila disedekahkan. Bila diandaikan seperti bermainsepak bola, bola yang ditendang kesana-kemari oleh 22 orang dan diperebutkan untuk mencapai tujuan (gol). Didalam kitab suci tuhan berjanji kepada orang-orang dermawan:

Hendaknya bekerjalah kamu seperti dengan seratus tanganmu dan mendermakan hasilnya dengan seribu tanganmu. Bila kamu bekerja dengan kesungguhan dan kejujuran, hasil yang akan diperolleh akan berlimpah ruah, beribu kali. Bagi yang mendermakannya, sesuai dengan keperluannya, Tuhan Yang Maha Esa akan menganugerahkan rahmat-Nya“. (Atharva Veda III.24.5).

Tuhan tidak akan pernah ingkar pada janjinya, bahwa orang yang dermawan akan menjadi orang kaya kelak dan hartanya langgeng. Kekayaan yang diperoleh tidak bertentangan dengan Dharma akan langgeng sampai tujuh turunan, sedangkan kekayaan yang diperoleh melanggar Dharma hanya mampu bertahan beberapa tahun saja . 

 Tentang pahala sedekah, didalam Canakya Nitisastra dinyatakan sedekah itu laksana air hujan, air samudera yang menguap berjatuhan kembali ke bumi berlipat-lipat. Tidak jarang hingga menyebabkan banjir besar, sebagaimana dikatakan;

Wahai para dermawan yang bijaksana, persembahkanlah dana puniyamu (bersedekahlah) kepada orang yang tepat dan pada waktu yang tepat, selain itu jangan. Air laut yang sampai pada permukaan awan menjadi manis, sesampai di bumi memberikan hidup kepada mahkluk-mahkluk yang bergerak (manusia,binatang, dll) dan kepada mahkluk-mahkluk yamg tidak bergerak (rerumputan,tumbuhan,dll) dan akhirnya kembali lagi ke lautan dengan jumlah puluhan juta kali. (Canakya Nitisastra.VIII.4)

Dulu saya sering mengutip sloka tersebut, tak jarang ada yang bertanya dengan sinis, misalnya dengan pertanyaan “apakah anda sudah melakukannya?” Bila tidak memiliki prinsip, atas pertanyaan seperti itu hati kita bisa ciut. Namun jika berpegang pada prinsip maka tidak akan terkecoh. Sedekah tidak harus berupa materi atau harta, bahkan sedekah berupa ilmu lebih penting. Bila dianalogikan seperti memberi pancing kepada seseorang lebih baik daripada memberikan ikan secara langsung.

Ide dan ilmu yang dimiliki jika tidak disampaikan kepada orang lain maka akan menjadi mubazir dan perlahan akan menjadi sampah (racun) serta menghilang dari pikiran. Sedangkan bila disampaikan kepada orang lain, apabila suatu saat kita melupakan ide atau gagasan yang pernah disampaikan, sedikit tidaknya pasti masih ada orang lain mengingat apa yang pernah dipahaminya.

Author: I Ketut Merta Mupu

Seorang pemuda yang lahir di daerah terpencil, berpikir sederhana dan terbuka. Alumni Universitas Hindu Indonesia (UNHI). Sedang menjadi pelayan masyarakat sebagai Pendamping Sosial di Kementerian Sosial RI - berdinas di Dinsos Kabupaten Bangli.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *