Menyucikan Diri dengan Mandi Api

Saya sering melihat guru (bapak) mandi hanya setengah ketika hendak sembahyang harian setiap pagi dengan mempersembahkan ‘canang sari’; Beliau hanya membersihkan tubuhnya sebagian. Tangan hanya dibersihkan dari siku sampai jari tangan, kaki dibersihkan dari lutut ke bawah, bagian atas hanya mencuci wajah.

Melihat kebiasaan beliau seperti itu, kadang dalam hati bertanya-tanya; apakah tidak berdosa jika hanya mencuci sebagian tubuh kemudian berdoa kepada dewa atau pun Tuhan apabila malam harinya melakukan hubungan suami istri? Mengingat tidak dibenarkan sembahyang setelah berhubungan seks  tanpa mandi.

Meski kadang protes dalam hati, tapi tak pernah berani mempertanyaknnya. Tapi ternyata apa yang dilakukan guru/bapakku tidaklah salah. Beberapa waktu lalu, saya pernah membaca buku bahwa seseorang bisa melakukan penyucian diri dengan mandi setengah, seperti apa yang guru lakukan. Mandi setengah bisa dilakukan apabila tidak memungkin untuk mandi sepenuhnya. Bahkan mandi sebenarnya tidak hanya menggunakan air. Ada beberapa perbuatan yang dianggap mandi dalam ajaran Hindu; seperti mandi dengan abu, debu/tanah, api.

Mandi dengan abu dilakukan dengan melumuri tubuh dengan abu, seperti para Yogi di Himalaya, begitu juga mandi dengan debu atau tanah, melumuri tubuh dengan tanah/debu. Lalu bagaimana mandi dengan Api?

Mandi dengan api sebenarnya sudah biasa kita lakukan saat sembahyang di Pura, hanya saja bersifat simbolik dengan menggunakan Dupa, biasanya hanya tangan yang disucikan menggunakan dupa, padahal seharusnya wajah juga. Mandi Api dilakukan dengan ‘ngayab’ api ke wajah. Misalnya ketika pulang dari kuburan, kita ayabang api dapur ke wajah. Hal ini juga bisa dilakukan bilamana sembahyang menggunakan lilin saat meditasi. Pada awal sembahyang, api lilin raupkan  ke wajah. Tujuannya ada 3: pertama sebagai penyucian, kedua sebagai sarana pemusatan pikiran, dan ketiga sebagai sarana upa saksi persembahyangan atau doa.

Di desa saya, mandi dengan api juga dilakukan ketika upacara pernikahan; dimana pengantin disembur dengan api menggunakan minyak wayang. Tujuannya tiada lain sebagai penyucian pengantin yang dianggap cuntaka/kotor. 

Mandi dengan api dapat juga dilakuan ketika pulang dari kuburan usai mengantar mayat maupun setelah mengikuti upcara ngaben. Ayabang/usapkan api dapur ke wajah/tubuh sebanyak 3 kali. Lalu muncul pertanyaan, apakah habis melayat langsung ke dapur? Apa boleh kita abis melayat cukup pakai korek api atau korek gas saja untuk mandi dengan api? tidak pakai korek gas atau hidupkan korek api, lalu ayabang ke wajah, kan beres, tidak ribet mencari dapur. 

Untuk menjelaskan hal itu, kita perlu merujuk pada dharma sidhiarta, dimana dalam setiap pelaksanaan aktivitas keagamaan tergantung pada lima hal; Iksa [tujuan], Sakti [kemampuan], desa [tempat/wilayah], kala [waktu], tattwa [kebenaran, filosofi]. Dalam konteks ini, erat kaitannya dengan ‘Desa’ atau tempat. Artinya tempat sangat menentukan dari kualitas penyucian. Penyucian yang dilakukan di sungai suci berbeda kualitasnya dengan mandi di kamar mandi, penyucian di tirta kelebutan berbeda kualitasnya dengan penyucian di pancuran yang sudah jauh dari sumber kelebutan.  Penyucian di laut berbeda kualitasnya dengan penyucian di danau.

Dengan analogi seperti itu maka dapat diambil kesimpulan bahwa penyucian dengan api di dapur berbeda kualitasnya dengan hanya menyalakan korek gas. Sama halnya sembahyang di pura dengan di rumah, sembahyang bersama dengan sembahyang sendiri, berbeda kualitasnya. Pahala yang dijanjikan Tuhan sangat berbeda.

Author: I Ketut Merta Mupu

Seorang pemuda yang lahir di daerah terpencil, berpikir sederhana dan terbuka. Alumni Universitas Hindu Indonesia (UNHI). Sedang menjadi pelayan masyarakat sebagai Pendamping Sosial di Kementerian Sosial RI - berdinas di Dinsos Kabupaten Bangli.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *